Ia sudah berada disana ketika aku tiba, di seberang jalanan. Sikunya menyangga pada bagian depan sepeda motornya, menopang dagunya. Kepalanya sedikit mendongak dan senyumnya berkembang saat melihatku. Rambutnya yang bergelombang serta merta tertiup angin. Hari itu ia mengenakan sweater belang abu-abu dan merah yang cukup kontras dipadu dengan jeans birunya. Bahkan walaupun aku berada lima setengah meter darinya, keindahan itu sangat jelas terlihat. Aku menatapnya lekat, berharap bisa mengenangnya persis seperti itu dan menyimpan imajinya dalam otakku selamanya.
Aku tersenyum membalas, melambaikan tangan. Kemudian ia menghampiriku dan mengedipkan matanya.
"Hai," katanya seraya menghentikan kendaraannya tepat dihadapanku.
Ia menjulurkan tangannya. Aku ragu, berjabatan tangan dengannya membuatku merasa aneh, seolah aku sedang bermain-main seperti anak kecil yang menjajal pakaian orang dewasa. Lagi pula, aku belum pernah benar-benar bersentuhan langsung dengannya. Tapi tangannya terus terulur, jadi beberapa detik kemudian aku meraih dan menjabatnya. Momen disaat kami saling bersentuhan menghasilkan sengatan listrik kecil yang menjalari seluruh tubuhku, dan aku menarik tanganku dengan cepat.
Ia tersenyum. Lalu melihat pergelangan tangannya dengan geraka tegas mencolok.
"Kau telat 7 menit 29 detik," Wajahnya tiba-tiba berubah serius.
"Benarkah?" kataku, menyeringai lebar.
"Entahlah.. Mungkin aku yang datang terlalu cepat." Suaranya berbinar dan ia kembali tersenyum.
Aku terkikik pelan. Masih dengan senyumnya ia menggerakkan kepalanya, mengisyaratkanku agar segera naik.
Ini aneh. Ketika kami berboncengan, aku merasa lebih dekat dengannya dibanding waktu-waktu lainnya. Meskipun kami tidak banyak berbicara rasanya ada benang tak terlihat yang menyatukan kami berdua, menyamakan irama kami, seolah kami sama-sama merespons harmoni genderang yang sama. Aku merasa ganjil karena tidak bisa mengutarakan langsung tentang apa yg aku rasakan saat bersamanya.
"Jadi, kita mau kemana?" cetusnya, memecah keheningan diantara kami. Ia menoleh sedikit ke arahku.
"Ke tempat-tempat yang asik, mungkin. Kau tahu kan?" satu-satunya jawaban yang ku pikirkan.
"Baiklah.."
Kemudian ia menambah kecepatan. Aku tidak bertanya kepadanya kemana ia akan membawaku pergi. Kami mengelilingin jalanan, melewati kampus yang menjadi tempat yang begitu bersejarah tentang pertemuan kami, mendahului kendaraan-kendaraan lain didepan kami tanpa ragu, tanpa berdebat tentang rute yang ia ambil. Udara segar terpompa masuk dan keluar paru-paruku, mengingatkanku betapa menakjubkannya bernafas, merasakan semuanya dalam waktu bersamaan. Perih menyengat mataku dan aku cepa-cepat mengedipkan mataku.
Kami terus menyusuri jalan, berboncengan. Memutari kota Tangerang Selatan hingga bukit-bukit di Living World, Alam Sutera. Setelah kira-kira beberapa kilometer ia memelankan kecepatan. Dengan kesepakatan tanpa suara kami memotong jalan melewati trotoar menuju bukit, menghempaskan tubuh kami ke bukit berumput tersebut dan mulai berbincang.
"Indah bukan?" serunya. Ia menoleh, menatapku. Wajahnya begitu meneduhkan, matanya yang sipit berwarna hitam dan pekat. Ya.. Indah. Sangat indah.. Gumamku. Ketika aku menatapnya, sejenak aku tertegun, tiba-tiba ingatanku tentang Ayah muncul. Ayah yang sedang berkutat dengan buku-buku dan segala macam mesin serta peralatan elektroniknya. Aku memalingkan wajah, malu, seolah dia adalah orang yang bertanggung jawab karena telah mengeruk ingatan itu ke permukaan, meraihnya dan menariknya dengan keras dalam kepalaku.
***
Detik-detik itu, momen-momen itu, potret-potret itu, seindah serapuh dan seputus asa seekor kupu-kupu yang seorang diri, mengepak melawan angin yang berhembus.
In memories of Thursday, August 03, 2012


0 comments:
Post a Comment