Dan kita tak akan pernah retak bukan? Lantai marmer yang dingin. Sisa sejarah yang terbelah. Ribuan keramik telah kau beri nama, licin, juga berwarna. Kini aku terjebak di pusara masa lalu, bekas langkah, silsilah para raja yang tak penuh diingat. Namun keramik-keramik itu tak sepenuhnya luka, yang bermula dari peninggalan rampasan perang. Selamanya pusara kelabu, waktu yang dungu; juga kerumun manusia yang tak pernah punya tempat untuk sekadar mengadu?
Aku melangkah lagi. Menikmati abad-abad yang sesak, setiap toreh pahat. Setiap sudut keramik yang terjerat, di gigir waktu. Meskipun aku tak sempat menikmati setiap cermin wajahmu yang terasa beku. Menjelma suara-suara silam yang bergema di punggung kota. Hanya ada sayup yang dingin, gumam yang gigil, dan berkas cahaya terasa buram. Memanjati tubuhku. Namun kau terus mencatat, berharap tak ada tahun-tahun yang alpa di kepalamu.
Welcome to My Blog!
Terima Kasih sudah berkunjung :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment