Senja selalu manis, selalu menghipnotis, selalu mengingatkanku denganmu. Tentang sebuah pertemuan yang cukup magis dan tak terprediksi, aku bersyukur bisa mengenalmu. Tidak ada yang pernah kebetulan kan?
Kamu telah mencuri kekagumanku. Karena kehadiranmu kian menguatkan jari jemariku untuk kembali menuliskan dunia-dunia baru yang belum pernah kujelajahi. Kamu mengajariku menulis dengan hati. Kamu menyeretku untuk
menulis lebih banyak lagi. Pasti kamu tidak mengetahui hal ini kan?
Duduk dibawah senja, ilalang-ilalang yang menari dengan gemulai, bertukar tawa dan cerita, menuliskan puisi-puisi cinta, merekam kerja senja dengan dua pasang mata, menikmati detik-detik yang segera pergi dijemput oleh menit, jam dan hari. Bukankah itu menyenangkan, Nana?


0 comments:
Post a Comment