Welcome to My Blog!
Terima Kasih sudah berkunjung :)
Tidak sedikit penelitian yang mengungkapkan pentingnya sikap untuk memaafkan dan legawa dalam hidup agar terbebas dari penyakit fisik. Karena pada dasarnya, masalah psikis yang tidak sehat jika terus ditahan bisa merembet ke masalah fisik atau menimbulkan penyakit.
Terkait hal memaafkan dan melepaskan dendam, pengarang buku pengembangan diri The Bounce Back Book, Karen Salmansohn, mengutarakan, ada delapan strategi atau cara untuk menjadi pribadi yang lebih pemaaf. Hal itu penting guna membebaskan diri dari belenggu amarah dan kepahitan, bahkan di situasi paling menantang dan sesulit apa pun.
Ucapkan Doa
Ketika perasaan amarah terhadap seseorang mulai merasuki pikiran, sebaiknya katakan pada diri sendiri, "Semua manusia pada dasarnya baik. Kemarahan pada manusia sebenarnya hanya karena jiwa penyayang yang kerapkali kehilangan arah". Lalu, doakan orang yang menyakiti Anda agar bisa merasakan kebahagiaan lagi.
DI Shibuya, salah satu persimpangan terpadat dunia, setiap 2 menit, ada lebih dari seribu penduduk Tokyo berpenampilan trendi bersiap melintas dari delapan titik persimpangan.
Kelihatannya mereka amat mungkin bertabrakan. Ternyata, tidak. Mereka bergerak otomatis saling menghindar. Seperti penari berputar-putar dengan kakikakinya.
Jika dipikir-pikir, itu amat menakjubkan. Apalagi, fenomena dumbwalking kini sudah merasuki warga Tokyo. Dumbwalking adalah ketika seseorang berjalan bak zombi, dengan kepala tertunduk, tangan tertekuk, dengan mata nyalang ke layar smartphone.
"Menjadi biasa, itu luar biasa. Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa."
Entah mengapa, memandang danau dengan segala macam
panoramanya membuatku rindu akan cerita kita. Riak-riak air yang bertabrakan
dengan kayu yang mengapung, membentuk cincin-cincin air yang semakin lama
semakin besar, lalu menghilang digantikan cincin berikutnya. Sempurna. Ikan
julung-julung yang menyemburkan gelembung-gelembung kecil yang rapuh, serapuh
seseorang dipinggir danau sana yang tak jemu memandang lurus kedepan, seolah
sedang berharap akan menemukan sesuatu yang belum pernah ditemuinya.
Aku disini, diatas bale danau fairy yang memang sengaja
disediakan untuk pengunjung danau yang indah ini, mejuntaikan kaki ke bawah dan
menikmati jilatan-jilatan lembut air yang beriak-riak di ujung jari kakiku.
Sebuah puisi dihadirkan dalam bentuk prosa dan berjudul “Bangsa Kasihan” telah menjadi salah satu koleksi karya sastra yang menyampaikan kritikan terhadap bangsa-bangsa merdeka. Bangsa yang diperkirakan tidak tahu atau memang tidak mau tahu mengenai nasib dirinya sendiri dalam sebuah bangsa yang merdeka. karena dalam kenyataannya ia menutup ruang bagi alat panca inderanya dalam menjalankan tugas fisik dan emosi. “Bangsa Kasihan” ini sangat menarik untuk diapresiasi karena penuh dengan pesan-pesan kemanusiaan.
Maka lumpur pun datang membasuh wajah kota itu.
(Hasan Aspahani, 2006)
Itulah bait pertama yang kau tulis dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari penanya, ketika perlahan-lahan kotaku terendam lumpur. Begitupun aku menyambut gembira, atas suratmu yang kau kirim melalui denyut hati, karena kau tahu arti penderitaan kami.
Aku mengerti perasaanmu. Begitu bernafsukah kau ingin datang ke kotaku? Begitulah yang aku rasakan dalam setiap detak nadimu. Tetapi aku tahu, kau hanya ingin mengembara lepas dalam batin kami yang menderita.
”Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.”
Serayu, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? O Serayu, sesedih apakah perasaan seorang wanita yang melihat senja itu dari balik jendela kereta ketika melintas di jembatan panjang sebelum stasiun Kebasen?
Sepanjang angin akan berembus, selalu ada cerita tentang wanita kesepian, senja yang menunggunya dalam waktu yang serba sebentar, lalu keheningan pun terjadi meski sesungguhnya gemuruh kereta ketika melintasi jembatan itu bisa terdengar hingga ke batas langit, atau ke dasar sungai.
Ia mengekori bapaknya yang berjalan beriring dengan Nurdin. Tangan kiri bapaknya menenteng sejumlah bubu bambu perangkap ikan, juga beberapa bubu nilon penjerat kepiting. Tangan kanannya menggenggam sepasang dayung. Nurdin, meski usianya kurang sepuluh tahun, enteng saja menggendong segulung jala dan menjinjing bekal. Maklum, sejak usia tujuh tahun, adik laki-lakinya itu sudah melaut bersama bapaknya. Zulaiha iri. Ia juga kepingin melaut. Tapi keinginan itu ibarat ikan hendak berenang di genangan langit! Angannya sering berkelana; menunggang sampan, menghirup wangi laut, dan membiarkan pias laut menyerpih di wajahnya. Nikmat!
Sampan masih tertambat, tapi terkulai-kulai diayun putik ombak. Bapaknya menyulut rokok, dan Nurdin begitu sigap menguras air dari lengkung sampan. Diam-diam Zulaiha menggeliat ke sisi Nurdin. Sampan berguncang! Lalu terdengar dengus yang rakus, disusul suara gedebab, semacam pelepah kelapa menimpa sesuatu. Zulaiha terjerembab! Di punggungnya, bukan tanggung rasa panas yang menjalar. Kepala dayung yang dihantamkan bapaknya ke tubuh Zulaiha. ”Berapa kali Bapak katakan, kau tu tak boleh melaut. Anak jadah!”
Ia sudah berada disana ketika aku tiba, di seberang jalanan. Sikunya menyangga pada bagian depan sepeda motornya, menopang dagunya. Kepalanya sedikit mendongak dan senyumnya berkembang saat melihatku. Rambutnya yang bergelombang serta merta tertiup angin. Hari itu ia mengenakan sweater belang abu-abu dan merah yang cukup kontras dipadu dengan jeans birunya. Bahkan walaupun aku berada lima setengah meter darinya, keindahan itu sangat jelas terlihat. Aku menatapnya lekat, berharap bisa mengenangnya persis seperti itu dan menyimpan imajinya dalam otakku selamanya.
Aku tersenyum membalas, melambaikan tangan. Kemudian ia menghampiriku dan mengedipkan matanya.
Mitch Felipe Mendoza
PHILIPPINE DAILY INQUIRER/ANN/MANILA
According to researchers Richard Lazarus and Susan Folkman (1984), stress can occur when pressure exceeds one's perceived ability to cope.
Studies show that stress can lead to heart problems, diabetes and even cancer. It is difficult to avoid stress; it will always come, especially if you allow it. But you can always learn how to deal with it.
Find time to identify sources of stress created by your own mind and habits, so you can continue your journey toward a well and healthy lifestyle.
According to the Social Readjustment Rating Scale developed by psychiatrists Thomas Holmes and Richard Rahe in 1967, the top 10 life events that greatly affect an adult's health are (in order): death of spouse, divorce, marital separation, jail term, death of a close family member, personal injury or illness, marriage, getting fired from work, marital reconciliation and retirement.
Dia selalu datang membawa bola-bola api yang dibungkus dengan kertas kado abu-abu mengilat, yang anti panas dan tidak bisa terbakar.
Senyumnya selalu mengembang, setiap dia membuka bungkusan dan mengambil bola-bola api yang besarnya seukuran apel Amerika. Begitu satu bola api kuterima maka sontak tubuhku berubah menjadi semacam kristal bercahaya. Aku tertawa. Sangat senang. Bahkan bahagia. Aku pun berlari mencari kaca yang menempel di dinding rumahku. Aku tersentak. Wajahku tampak sangat cantik. Hidungku tambah mancung. Bibirku tampak indah merekah. Mataku tampak bercahaya. Gelambir lemak yang selama ini mengisi pipiku pun lenyap. Pipiku ramping. Puluhan ribu pori-pori di wajahku memancarkan cahaya. Oi, tubuhku juga makin sintal. Padat berisi. Aku seperti terlahir kembali menjadi perempuan paling cantik di dunia.
"Dari mana kau dapat bola api itu?" kutatap mata dia.
Ada sebuah sofa besar di rumah kakekku yang begitu tua dan antik hingga dapat disebut keramat. Kursi itu terletak di ruang tamu sehingga siapa pun yang berkunjung ke rumah kakek, otomatis akan melirik ke kursi itu terlebih dahulu. Lucunya, meskipun tidak ada yang melarang siapa pun untuk duduk di kursi itu, para tamu yang datang enggan menenggelamkan diri ke dalamnya.
Mungkin mereka menyadari kehadiran arwah-arwah yang bersemayam di kursi itu. Atau mungkin pula mereka takut ganti rugi jika kursi itu tiba-tiba rusak.
Nenek amat sayang pada kursi itu. Sewaktu aku kecil, ia sering bercerita kalau ibunya sering membacakan dongeng di kursi itu sambil memangku dirinya. Konon, aku juga pernah mendengar desas-desus bahwa nenek hampir batal kawin lari dengan kakek karena hatinya tidak rela meninggalkan kursi kesayangannya.
Sudah subuh. Segala masih ditangkup kabut. Jika bukan karena bulan, mungkin sawah dan lembah di dinding bukit itu diterpa pekat. Dan karena cahaya bulan, dua sosok berdiri tegak di tengah sawah berair itu sedikit tersingkap, bergerak agak samar, sesekali membungkuk lalu tegak kembali. Ketika bulan bersinar terang karena tak terhalang awan, makin jelas sosok-sosok itu; seorang anak dan lelaki tua.
Mereka tak berbicara. Perhatian mereka hanya pada belut yang meliuk di sawah berair. Nampak lebih sigap dan kerap si lelaki tua mendapatkan tangkapan belut, menusuk hasil tangkapannya pada sebatang lidi janur dan memberikannya kepada anak itu. Mereka seperti tak hirau pada dingin, keremangan, dan kesunyian. Mereka cuma peduli pada belut-belut.
Pagi mulai terang dan mereka menyudahi perburuannya. Sebelum pulang, mereka singgah di pancuran di bawah bukit, telanjang membasahi sekujur tubuh tanpa sabun. Dingin yang bersisa di bawah bukit itu tak membuat mereka menggigil. Lelaki tua itu malah berendam berlama-lama di bawah genangan air pancuran.
"Ini," San Sumo Kiring menyodorkan wadah, "tampung di sini!"
Baiklah, akan kuceritakan. Ketika itu, menjelang sore dan udara mengandung debu-debu hangat. Kami dipaksa buang air kecil ke plastik ukuran perempat kilo. Karena sudah banyak berkeringat, hasilnya sedikit.
"Tidak apa-apa," kata San Sumo Kiring. Ia lantas meminta dengan sikap profesional, sebelum membisikkan sesuatu ke dalam plastik pesing itu hingga mengembung, lalu diikat. Ia, dengan jeda tertata berat, memberi petunjuk; nanti kami harus melakukan apa dan bagaimana. Mendengarnya, sikap jantungku jadi gentar. Jujur, aku takut. Ada bayangan serbuan dan ancaman orang-orang yang tak dikenal.
"Jangan takut!" San Sumo Kiring membentak. Ia hisap mata dan rasa cengeng kami. Ia tatap. Tajam, dalam. "Kalian mau desa ini kalah, heh?!"
Baiklah, akan kuceritakan. Ketika itu, menjelang sore dan udara mengandung debu-debu hangat. Kami dipaksa buang air kecil ke plastik ukuran perempat kilo. Karena sudah banyak berkeringat, hasilnya sedikit.
"Tidak apa-apa," kata San Sumo Kiring. Ia lantas meminta dengan sikap profesional, sebelum membisikkan sesuatu ke dalam plastik pesing itu hingga mengembung, lalu diikat. Ia, dengan jeda tertata berat, memberi petunjuk; nanti kami harus melakukan apa dan bagaimana. Mendengarnya, sikap jantungku jadi gentar. Jujur, aku takut. Ada bayangan serbuan dan ancaman orang-orang yang tak dikenal.
"Jangan takut!" San Sumo Kiring membentak. Ia hisap mata dan rasa cengeng kami. Ia tatap. Tajam, dalam. "Kalian mau desa ini kalah, heh?!"
Ciasahan, hanya di Ciasahan orang tua dan anak-anak mudah sekali memercayai kisah, baik sejarah ataupun bualan seorang Kakek kepada cucu-cucunya. Kisah bagaikan sesuatu yang turun dari langit, semisal kitab, yang sakral dalam dada setiap masyarakat. Tetapi, kisah ini, bagi anak kecil, adalah kisah paling fenomenal di antara yang lainnya.
Janji seolah ikatan yang tak abadi, karena siapapun bisa lupa, bisa lalai tak menjaga, pun tak mampu lagi untuk menepati. Janji seolah ketakutan bagi mereka yang tak berani mempertahankan sampai akhir. Hanya ada hati yang perlu dilatih lebih kuat, lebih berhati-hati, lebih menjaga yang dicintainya.
Hatiku lebih dulu memilihmu, sebelum kamu mengutarakan rasa. Mungkin sebelum perjumpaan kita, Tuhan sudah merencanakan agar kita saling mencinta. Itu adalah salah satu rahasia-Nya, yang tak pernah bisa diukur dengan logika. Mungkin aku tak sering mengucapkan kalimat ini. Tapi kali ini ingin kubisikan lewat seracik aksara dalam surat yang entah kapan akan kau baca. Aku mencintaimu dan semoga akan selalu begitu. Karena sungguh aku tak bisa mengintip hari esok. Ada batas yang terlalu jauh, yang tak bisa kita tempuh.
Kadang hati merasa lelah bekerja, terlalu banyak apa yg dirasa, terlalu banyak apa yg dipendam. Hingga pada akhirnya dia memilih bungkam. Bungkam dalam tangisan, bungkam dalam tulisan, bungkam dalam deraian air mata, dan bungkam dalam sajak yg tak kunjung menemukan arah jalan pulang..
Seperti yang sudah-sudah, resiko bertemu adalah berpisah. Entah kapan, entah lusa, entah beberapa pekan lagi. Entah bagaimana untuk membuat segalanya baik-baik saja. Karena melangkah, takut membuat segalanya berubah dan mundur pun takut seperti mengabaikan kesempatan yang sudah ditawari. Tapi segala rasa takut hanya mimpi buruk yang bisa kau atasi dengan mempercayai segalanya saat kamu terbangun nanti.
A little sweet, a little sour. A little close, not too far.
All l need, all l need.. ..all l need is.. ..to be free.
lt's close enough to touch.. ..but disappears, like a mirage.
Woven of dreams, warm as a sweater.. ..beyond the white clouds.. ..is my world.
Let me in without a shout, let me in, l have a doubt.
There are more, many more, many more like me.
l'm not alone.. ..dream walking, wide-eyed. ..
Subscribe to:
Comments (Atom)

















- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact