DI Shibuya, salah satu persimpangan terpadat dunia, setiap 2 menit, ada lebih dari seribu penduduk Tokyo berpenampilan trendi bersiap melintas dari delapan titik persimpangan.
Kelihatannya mereka amat mungkin bertabrakan. Ternyata, tidak. Mereka bergerak otomatis saling menghindar. Seperti penari berputar-putar dengan kakikakinya.
Jika dipikir-pikir, itu amat menakjubkan. Apalagi, fenomena dumbwalking kini sudah merasuki warga Tokyo. Dumbwalking adalah ketika seseorang berjalan bak zombi, dengan kepala tertunduk, tangan tertekuk, dengan mata nyalang ke layar smartphone.
Ya, bisa dikatakan fenomena dumbwalking dipicu penggunaan ponsel pintar yang kian marak. Pada 2012, hanya seperempat penduduk Jepang yang berponsel. Namun, dewasa ini mereka sadar smartphone terlalu berguna untuk dihiraukan. Lebih dari setengah penduduk Jepang sekarang memiliki smartphone.
Walakin, seiring menguatnya popularitas smartphone, muncul pula fenomena smartphone walk atau dumbwalking. Menurut riset, orang bukan hanya berjalan lebih lambat ketika menggunakan smartphone, jarak pandang juga berkurang 5%. Maka, beberapa kalangan pun mengkhawatirkan dampaknya di jalan-jalan padat macam Shibuya.
Baru-baru ini raksasa ponsel Jepang, NTT Docomo, merilis simulasi. Jika semua orang menyeberang sambil berdumbwalking, akan terjadi lebih dari 400 tabrakan. Kemudian, hanya 36% pejalan kaki yang sukses melintas. Jika itu terjadi, keteraturan masyarakat Jepang bisa jadi menemui ajal.
Anehnya, orang yang paling terganggu dengan fenomena itu ialah seorang warga AS. Michael Cucek sudah tinggal lebih dari 20 tahun di Jepang. Menurutnya, etika penggunaan ponsel orang-orang Jepang salah satu yang terbaik di dunia. Di Jepang, jarang ada yang berbicara keras-keras di telepon saat di kereta api. Para remaja pun tidak berani memutar lagu di ponsel kencang-kencang.
Jika kondisi di Shibuya memang memburuk, polisi akan berpatroli di persimpangan dan berteriak agar orangorang melihat ke depan. Sampai `bahaya' itu benar-benar terjadi, Michael akan terus mengomel.
Namun, apa smartphone walk benarbenar problem serius? Alex Marshall, koresponden BBC, mencoba mengetesnya. Jumat sore lalu, di salah satu momen terpadat, ia menyeberang di Shibuya sembari mengetik surel.
Ia mendapati pengalaman itu cukup 'mengerikan'. Kaki-kaki berseliweran dengan cepat dalam sudut pandangnya yang sempit. Tas-tas belanja beterbangan seolah akan mengenai kepalanya, tapi detik-detik terakhir, mereka menghilang. "Setelah beberapa saat, aku rileks. It's OK. Semua orang bereaksi memberi jalan."
Namun, ia lalu sadar ada dua orang di hadapannya tidak bereaksi memberi jalan. "Aku mencoba bergerak ke kiri, mereka juga melakukan hal sama, begitu pula sebaliknya. Itu begitu konyol, aku putuskan untuk melihat ke depan."
Marshall mengira akan melihat dua dumbwalker seperti dirinya. Ternyata, yang ia lihat sepasang sejoli yang tidak ingin melepaskan gandengan tangan mereka demi memberi jalan kepada dumbwalker. "Yang perempuan memberiku tatapan mencela. Tatapannya sudah cukup untuk memastikan bahwa aku tidak akan lagi melakukan dumbwalking." (*/BBC/E-2)
Source from Media Indonesia, 24/07/14


0 comments:
Post a Comment