Welcome to My Blog!

Terima Kasih sudah berkunjung :)
Saturday, July 19, 2014

Danau Kita dan Bulan Kenangan



"Menjadi biasa, itu luar biasa. Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa."

Entah mengapa, memandang danau dengan segala macam panoramanya membuatku rindu akan cerita kita. Riak-riak air yang bertabrakan dengan kayu yang mengapung, membentuk cincin-cincin air yang semakin lama semakin besar, lalu menghilang digantikan cincin berikutnya. Sempurna. Ikan julung-julung yang menyemburkan gelembung-gelembung kecil yang rapuh, serapuh seseorang dipinggir danau sana yang tak jemu memandang lurus kedepan, seolah sedang berharap akan menemukan sesuatu yang belum pernah ditemuinya.

Aku disini, diatas bale danau fairy yang memang sengaja disediakan untuk pengunjung danau yang indah ini, mejuntaikan kaki ke bawah dan menikmati jilatan-jilatan lembut air yang beriak-riak di ujung jari kakiku. 

Pukul 8.45, belum banyak pengunjung yang datang, mungkin masih terlalu pagi, atau karena hari ini hari kerja, terlebih lagi bulan ini merupakan bulan suci ramadhan, dimana segenap masyarakat muslim diwajibkan menunaikan ibadah puasa.

Danau fairy, tempat yang memahat salah satu peristiwa bersejarah bagi kita. Aku kangen kamu, kamu yang pertama kali mengajak aku ke danau ini. Aku kembali menyusuri jalan-jalan yang dahulu pernah kita lalui berdua, dibulan yang sama.

Juli. Entah.. lidahku menjadi sangat kelu dan berat menyebut bulan itu. Bulan yang mengingatkanku pada seorang gadis yang sempat menahun menjadi primadona dihatimu. Aku benci mengakuinya, disudut hati kecilku, ada rindu yang amat menyengat pada Juli, imajinasi-imajinasi liar yang kau ciptakan kala aku mengingat Juli, kenangan utuh yang menghadirkan hasrat untuk mengulangnya lagi dan lagi. Selalu.

Juli. Satu kata yang tulus mencipta sudut pandang yang amat sangat bertolak belakang. Seperti menjelaskan detail cinta yang begitu dekat kemiripannya dengan kegilaan. Cinta, cinta yang aku miliki terhadapmu acap kali membumihanguskan kewarasan, membuatku berani melakukan hal-hal yang tidak pernah terbesit sekalipun.

Aku telah kehilangan Juliku. Dan aku terjebak didalamnya, tak bisa beranjak apalagi berlari. Hasratku untuk mengulang indahnya Juli seperti hendak memeluk kaki langit yang bersembunyi dibalik danau ini. Ah.. Bolehkah aku menyebutnya Danau kita? Atau, jika Juli terlalu menyakitkan, bolehkah aku menggantinya dengan bulan kenangan? Tidak terlalu terdengar seperti sekedar diksi picisan bukan?

Aku rindu kamu. Rinduu.. Danau kita dan bulan kenangan yang sempurna kau lukiskan dalam kanvas memori kita. Sebuah lukisan yang dulu mampu mengalahkan kusamnya rindu dan hitamnya api cemburu. Lukisan itu kini hanya bermakna kata, "dulu", "pernah" dan "sempat". Jika kamu masih menyimpan jani-janji yang sempat kamu ikrarkan, sudikah kiranya kamu menghapus kata-kata itu dalam tulisan-tulisanku?

0 comments:

Post a Comment

 
;