"Menjadi biasa, itu luar biasa. Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa."
Entah mengapa, memandang danau dengan segala macam
panoramanya membuatku rindu akan cerita kita. Riak-riak air yang bertabrakan
dengan kayu yang mengapung, membentuk cincin-cincin air yang semakin lama
semakin besar, lalu menghilang digantikan cincin berikutnya. Sempurna. Ikan
julung-julung yang menyemburkan gelembung-gelembung kecil yang rapuh, serapuh
seseorang dipinggir danau sana yang tak jemu memandang lurus kedepan, seolah
sedang berharap akan menemukan sesuatu yang belum pernah ditemuinya.
Aku disini, diatas bale danau fairy yang memang sengaja
disediakan untuk pengunjung danau yang indah ini, mejuntaikan kaki ke bawah dan
menikmati jilatan-jilatan lembut air yang beriak-riak di ujung jari kakiku.
Pukul 8.45, belum banyak pengunjung yang datang, mungkin masih terlalu pagi,
atau karena hari ini hari kerja, terlebih lagi bulan ini merupakan bulan suci
ramadhan, dimana segenap masyarakat muslim diwajibkan menunaikan ibadah puasa.
Danau fairy, tempat yang memahat salah satu peristiwa
bersejarah bagi kita. Aku kangen kamu, kamu yang pertama kali mengajak aku ke
danau ini. Aku kembali menyusuri jalan-jalan yang dahulu pernah kita lalui
berdua, dibulan yang sama.
Juli. Entah.. lidahku menjadi sangat kelu dan berat menyebut
bulan itu. Bulan yang mengingatkanku pada seorang gadis yang sempat menahun
menjadi primadona dihatimu. Aku benci mengakuinya, disudut hati kecilku, ada
rindu yang amat menyengat pada Juli, imajinasi-imajinasi liar yang kau ciptakan
kala aku mengingat Juli, kenangan utuh yang menghadirkan hasrat untuk
mengulangnya lagi dan lagi. Selalu.
Juli. Satu kata yang tulus mencipta sudut pandang yang amat
sangat bertolak belakang. Seperti menjelaskan detail cinta yang begitu dekat
kemiripannya dengan kegilaan. Cinta, cinta yang aku miliki terhadapmu acap kali
membumihanguskan kewarasan, membuatku berani melakukan hal-hal yang tidak
pernah terbesit sekalipun.
Aku telah kehilangan Juliku. Dan aku terjebak didalamnya,
tak bisa beranjak apalagi berlari. Hasratku untuk mengulang indahnya Juli
seperti hendak memeluk kaki langit yang bersembunyi dibalik danau ini. Ah..
Bolehkah aku menyebutnya Danau kita? Atau, jika Juli terlalu menyakitkan,
bolehkah aku menggantinya dengan bulan kenangan? Tidak terlalu terdengar
seperti sekedar diksi picisan bukan?
Aku rindu kamu. Rinduu.. Danau kita dan bulan kenangan yang
sempurna kau lukiskan dalam kanvas memori kita. Sebuah lukisan yang dulu mampu
mengalahkan kusamnya rindu dan hitamnya api cemburu. Lukisan itu kini hanya bermakna
kata, "dulu", "pernah" dan "sempat". Jika kamu
masih menyimpan jani-janji yang sempat kamu ikrarkan, sudikah kiranya kamu
menghapus kata-kata itu dalam tulisan-tulisanku?


0 comments:
Post a Comment