
Tiba tiba saja aku ingat kamu..
Ingat kebersamaan kita. Ingat hari-hari dimana kau selalu ada, menemani langkahku, mendampingi hidupku, mengisi hatiku, seperti dulu. Masih dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untukmu. Seperti apapun keadaannya. Aku tak bisa menepis segalanya begitu saja. Masih selalu ada yang tertinggal disini. Semuanya masih bermuara padamu. Dan kau tahu, kadang kala, kalau kerinduanku begitu menyiksa, ingin kuangkat telpon dan mendengar suaramu. Cuma masalah kecil bukan? Tapi tetap saja tak bisa kulakukan. Kubiarkan perasaanku ini menggerogoti hatiku. Membuatku hanya bisa terduduk menangis bila mengingatmu. Rasanya baru kemarin semuanya itu terjadi. Baru kemarin kurasakan kehangatanmu. Dan melupakanmu adalah satu satunya yang tak bisa kulakukan selama hidupku. Hal tersulit yang kutahu akan selalu menjadi bagian dalam diriku. Kemanapun aku pergi, pasti akan ada kamu, mengisinya, mengikutiku, sesak sekali…
Andai saja kita saling terbuka. Andai kita mau jujur dengan perasaan kita. Mungkin kita tak akan berpisah seperti ini. Andai saja sedikit kau melihat hatiku. Tak mungkin kubiarkan diriku menjauh. Pergi mengusung piluku sendiri. Banyak sekali kata andai berkelebat dan tinggal didalam kepalaku. Tapi tak satupun bisa menguak tirai diantara kita. Yang terjadi malah sebaliknya. Semakin tak terkendali. Menyakiti tanpa henti.
Mengapa kau membiarkan ini terjadi?
Mengapa tak percaya padaku? Mengapa membiarkan aku disisimu, tanpa kata? Membiarkan aku menunggu. Membuatku tanpa sadar membangun ‘tembok tinggi’. Andai saja kau mengerti..
Kadang kadang… ingin sekali bertanya. Seperti apa aku dihatimu? Berartikah aku untukmu? Pentingkah kehadiranku? Apa arti kebersamaan kita? Tapi setiap tanya itu melintas, dengan segera semuanya kutepis. Bukan tak siap dengan jawabanmu, tapi…
Ah, mungkin seperti yang kukatakan dulu… terlalu banyak perasaan yang mesti kujaga. Dan kadang, itu tanpa memikirkan perasaanku sendiri. Ingin semuanya kupenuhi. Kuturuti apapun yang mereka katakan. Tentangmu. Tentang kita. Tentang kemungkinan kemungkinan yang terjadi. Membuatku letih sendirian. Memendam segalanya. Membuatku kebingungan mengambil langkah. Hingga kadang pusaran kepala tak hentinya bertanya, “Ada apa dengan diriku yang terlalu bodoh karena mencintaimu??”
Apa yang sebenarnya terjadi diantara kita?
Terlalu banyak warna kau beri. Menyadarkanku bahwa tidak hanya hitam dan putih. Mengisi setiap detik hidupku.
Kau begitu berarti…
Begitu penting di kehidupanku, hingga aku tak tau lagi, bagaimana kujalani hari, setelah segalanya terjadi? Setelah semuanya tak bisa lagi aku perbaiki. Kulewatkan semua kenangan tanpamu disisiku. Mencurahkan seluruh rasa tanpamu disampingku. Aku ingin sekali bisa bersamamu. Mengandalkanmu. Membiarkanmu menemani dan menyayangiku. Membiarkan setiap rasa mengalir seperti air. Tanpa paksaan. Tau bahwa aku tak akan sendiri. Bagaimanapun dan apapun yang terjadi… Aku tau, bahwa kau akan selalu ada.
Saat seperti ini… Ketika bayangmu kembali datang, Cuma rasa hampa yang kudapat.
Aku kesepian…
Kalau saja kau ada disini. Kalau saja bisa kuperbaiki semuanya. Hingga tak perlu ada ‘benang’ yang melilit sekujur tubuhku. Membuatku sesak. Membuatku galau berkepanjangan dan tak bisa kuelakkan. Dan mengapa baru kusadari, kalau jauh darimu seperti ada sesuatu yang hilang? Ada yang tertinggal dan tak bisa ku…
Ah, siapa yang salah?
Mungkin tanya seperti ini, sampai kapanpun tak akan pernah terjawab. Menggantung tak jelas. Seperti yang kau inginkan, kan?
Aku sayang kamu…
Dan itu tak mungkin kuingkari. Tulus dari dasar hatiku. Kau tau… Ingin sekali aku bisa jujur padamu. Mengatakan apa yang kurasakan. Tapi itu semua mungkin tak akan pernah berpengaruh apapun. Tak bisa mengurai benang kusut yang kulakukan. Menjauh darimu. Mati matian tak peduli padamu. Acuh dan tak memperhatikanmu lagi. Berusaha sekuat tenaga tak melihatmu. Itu semua menyakitkan. Membuatku sedih. Tapi aku bisa apa? Tak ada lagi yang dapat kulakukan. Bahkan kubiarkan kau mengira, bahwa memang itulah yang kuinginkan. Membiarkan kau berpikir bahwa aku membencimu.
Ah… Aku bodoh ya?
Kubiarkan kau menduganya. Sedikitpun tak berusaha kusangkal. Maafkan aku… Andai masih bisa kukatakan kepadamu.
Dan sekarang…
Kalau suatu hari nanti kau bisa melihat segala yang sengaja aku lakukan. Mungkin semua sudah terlambat… Meski kutunggu kau yang merubahnya. Aku tak pernah ingin berharap lagi. Semuanya ingin kulupakan. Berusaha kukubur dalam dalam. Bukan ingin berlalu, tak mengingatmu sama sekali. Tapi cuma ini jalan terbaik. Untukku. Untukmu. Untuk kita. Segalanya kini sudah kupasrahkan. Sudah kurelakan, meski rasa sakit tak bisa kutepis. Bagaimanapun tak pernah kuinginkan kalau akhirnya seperti ini. Kau adalah bagian terindah dalam hidupku. Orang pertama yang kucintai sepenuh hati. Yang pernah memasuki seluruh cinta yang selalu kusimpan rapat untuk sosok dalam mimpiku. Semuanya akan kukenang… Terima kasih… Untuk segalanya. Mungkin itu yang belum sempat kuucapkan. Karena membuatku bahagia meski sesaat.
Suatu hari nanti aku pasti kembali.
Berdiri didepanmu dengan sosok yang berbeda. Mungkin tak sesuai yang kau harapkan. Tapi aku ingin kau mengerti, inilah aku! Seperti inilah aku! Apa adanya. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tanpa pernah lagi harus memikirkan banyak perasaan yang mesti kujaga. Ingin berdiri tegar meskipun tanpamu. Ingin memperbaiki segalanya. Dan dari semuanya, tak bisa kupungkiri bahwa ini semua karenamu. Kau memberi arti. Terlalu berharga untukku. Hingga aku tak tau… bagaimana membalas semua yang sudah kau lakukan untukku. Hanya satu yang tak akan pernah berubah… Dan aku ingat, itu adalah janjiku dulu. Aku sayang kamu. Selamanya. Tak akan pernah meninggalkanmu. Melupakanmu. Masih selalu berharap, kebahagiaan mendampingi langkahmu. Mewarnai hidupmu. Meski bukan aku lagi yang melakukannya. Aku ingin selalu melihat binar dimatamu. Ingin mimpimu terwujud. Impian-impian indah yang pernah kudengar. Aku ingin sekali bisa membuat harapanmu terkabul. Cuma itu yang tersisa kini…
Melihatmu bahagia…

0 comments:
Post a Comment