Mungkin sudah terlalu jauh aku tersesat di kotamu, hingga tak lagi bisa mengingat, dari arah mana aku datang dan ke arah mana seharusnya aku pergi. Sementara kendaraan di jalan-jalan, senantiasa memberikan cahaya bahkan bagi siapa-siapa yang tak lagi mempedulikannya. Aku pun masih senantiasa memberimu cahaya. Aku tak tahu, sampai kapan aku bisa menjadi asing di tengah-tengah peristiwa yang selalu mengingatkanku padamu. Sampai saat ini, aku hanya bisa meyakini satu hal yang mungkin kekal, bahwa aku ingin lebih lama bertahan di kotamu, meski itu berarti tersesat, dan engkau mungkin belum akan memahami apa yang sesungguhnya di sana kucari. Tak apa. Kukira masih akan ada banyak kisah untuk dimaknai, dan jika pun kelak aku harus menyerah, tentunya hanya kepada apa yang sungguh-sungguh aku percayai. Aku tak ingin cita-cita begitu saja lenyap, sedangkan untuk membuatnya ada aku terpaksa mengorbankan banyak kenangan dan menjadikannya usang. Meski matamu belum bisa menemukan tanda-tanda di mataku, aku akan bertahan.
Untuk sebuah janji yang tak pernah ingin kuingkari, barangkali aku akan mengenang setiap peristiwa yang kutemui, melekatkannya dalam puisi, lalu memberikannya padamu. Tapi seindah apapun sebuah puisi, hanya akan engkau maknai di saat engkau sendiri, dan aku hanya akan menjadi bayang-bayang bagi tubuhmu yang tak setiap saat merindukan cahaya. Aku tak ingin seperti itu. Sebab aku memahami cinta sebagai sesuatu yang nyata. Dan jika kita hanya terus berpura-pura, kita mungkin hanya akan menjadi rahasia dari peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya tak pernah ada. Jika kesetiaan bisa tumbuh dari banyak pengorbanan, kuharap kebersamaan kita kelak adalah sebuah tujuan.
Maka biarkanlah aku senantiasa memberimu cahaya, meski mungkin tak setiap saat engkau berada dalam gulita. Aku akan setia menjadi malam bagi sepasang matamu yang lelah, bagi sebuah kota di hatimu yang merindukan kisah-kisah.


0 comments:
Post a Comment