Welcome to My Blog!

Terima Kasih sudah berkunjung :)
Sunday, January 31, 2016 0 comments

Matamu




Matamu adalah malam bagi sebuah kota di mataku, tempat lampu-lampu redup menyala, menyambut siapa saja yang merasa keyakinannya goyah. Di sana, jalan-jalan hanya sesekali lengang, hujan seperti enggan berhenti, dan percakapan banyak tertinggal di setiap keberangkatan yang tiba-tiba. Persis, seperti itu lah mataku menerjemahkan matamu: Sebuah keberangkatan yang tiba-tiba.

Matamu adalah malam bagi peron-peron di mataku, yang kehilangan getaran di setiap keberangkatan yang tiba-tiba. Di sana, aku terjebak antara tetap tinggal atau menyusul mereka yang telah pergi. Sementara jarak tak pernah lagi menunggu. Waktu melangkah semakin cepat. Dan sebuah jawaban dari apa yang tak pernah kutanyakan, datang begitu saja.

Aku lalu menyadari, tak mungkin menghapus kejadian yang pernah ada tanpa mengalami kembali kejadian itu. Sedangkan bau dari kenangan yang membusuk hanya akan menjadi saksi atas hancurnya sebuah keyakinan yang mati-matian kupertahankan. Lalu tak lama, sebuah kota akan patuh pada kesia-siaan. Kehidupan akan kembali jadi sekeping uang yang menolak dibelanjakan. Perjalanan terhenti.Kematian bermalam di tempat-tempat yang ditinggalkan. Percakapan tak lagi terdengar. Dan hujan terasa asing.

Matamu, adalah malam bagi sejumlah kenangan yang seharusnya kulupakan. Dan sebuah janji yang dulu ada, akan selalu ada, meski tak mungkin kini untuk kita memenuhinya.

Pamulang, 01 Februari 2016
0 comments

Cahaya di Sebuah Kota




Mungkin sudah terlalu jauh aku tersesat di kotamu, hingga tak lagi bisa mengingat, dari arah mana aku datang dan ke arah mana seharusnya aku pergi. Sementara kendaraan di jalan-jalan, senantiasa memberikan cahaya bahkan bagi siapa-siapa yang tak lagi mempedulikannya. Aku pun masih senantiasa memberimu cahaya. Aku tak tahu, sampai kapan aku bisa menjadi asing di tengah-tengah peristiwa yang selalu mengingatkanku padamu. Sampai saat ini, aku hanya bisa meyakini satu hal yang mungkin kekal, bahwa aku ingin lebih lama bertahan di kotamu, meski itu berarti tersesat, dan engkau mungkin belum akan memahami apa yang sesungguhnya di sana kucari. Tak apa. Kukira masih akan ada banyak kisah untuk dimaknai, dan jika pun kelak aku harus menyerah, tentunya hanya kepada apa yang sungguh-sungguh aku percayai. Aku tak ingin cita-cita begitu saja lenyap, sedangkan untuk membuatnya ada aku terpaksa mengorbankan banyak kenangan dan menjadikannya usang. Meski matamu belum bisa menemukan tanda-tanda di mataku, aku akan bertahan. 

Untuk sebuah janji yang tak pernah ingin kuingkari, barangkali aku akan mengenang setiap peristiwa yang kutemui, melekatkannya dalam puisi, lalu memberikannya padamu. Tapi seindah apapun sebuah puisi, hanya akan engkau maknai di saat engkau sendiri, dan aku hanya akan menjadi bayang-bayang bagi tubuhmu yang tak setiap saat merindukan cahaya. Aku tak ingin seperti itu. Sebab aku memahami cinta sebagai sesuatu yang nyata. Dan jika kita hanya terus berpura-pura, kita mungkin hanya akan menjadi rahasia dari peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya tak pernah ada. Jika kesetiaan bisa tumbuh dari banyak pengorbanan, kuharap kebersamaan kita kelak adalah sebuah tujuan.

Maka biarkanlah aku senantiasa memberimu cahaya, meski mungkin tak setiap saat engkau berada dalam gulita. Aku akan setia menjadi malam bagi sepasang matamu yang lelah, bagi sebuah kota di hatimu yang merindukan kisah-kisah.


Sunday, January 24, 2016 0 comments

Gerimis di Bulan Januari



Tiba tiba saja aku ingat kamu..
Ingat kebersamaan kita. Ingat hari-hari dimana kau selalu ada, menemani langkahku, mendampingi hidupku, mengisi hatiku, seperti dulu. Masih dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untukmu. Seperti apapun keadaannya. Aku tak bisa menepis segalanya begitu saja. Masih selalu ada yang tertinggal disini. Semuanya masih bermuara padamu. Dan kau tahu, kadang kala, kalau kerinduanku begitu menyiksa, ingin kuangkat telpon dan mendengar suaramu. Cuma masalah kecil bukan? Tapi tetap saja tak bisa kulakukan. Kubiarkan perasaanku ini menggerogoti hatiku. Membuatku hanya bisa terduduk menangis bila mengingatmu. Rasanya baru kemarin semuanya itu terjadi. Baru kemarin kurasakan kehangatanmu. Dan melupakanmu adalah satu satunya yang tak bisa kulakukan selama hidupku. Hal tersulit yang kutahu akan selalu menjadi bagian dalam diriku. Kemanapun aku pergi, pasti akan ada kamu, mengisinya, mengikutiku, sesak sekali…

Andai saja kita saling terbuka. Andai kita mau jujur dengan perasaan kita. Mungkin kita tak akan berpisah seperti ini. Andai saja sedikit kau melihat hatiku. Tak mungkin kubiarkan diriku menjauh. Pergi mengusung piluku sendiri. Banyak sekali kata andai berkelebat dan tinggal didalam kepalaku. Tapi tak satupun bisa menguak tirai diantara kita. Yang terjadi malah sebaliknya. Semakin tak terkendali. Menyakiti tanpa henti.
 
;