
Matamu adalah malam bagi sebuah kota di mataku, tempat lampu-lampu redup menyala, menyambut siapa saja yang merasa keyakinannya goyah. Di sana, jalan-jalan hanya sesekali lengang, hujan seperti enggan berhenti, dan percakapan banyak tertinggal di setiap keberangkatan yang tiba-tiba. Persis, seperti itu lah mataku menerjemahkan matamu: Sebuah keberangkatan yang tiba-tiba.
Matamu adalah malam bagi peron-peron di mataku, yang kehilangan getaran di setiap keberangkatan yang tiba-tiba. Di sana, aku terjebak antara tetap tinggal atau menyusul mereka yang telah pergi. Sementara jarak tak pernah lagi menunggu. Waktu melangkah semakin cepat. Dan sebuah jawaban dari apa yang tak pernah kutanyakan, datang begitu saja.
Aku lalu menyadari, tak mungkin menghapus kejadian yang pernah ada tanpa mengalami kembali kejadian itu. Sedangkan bau dari kenangan yang membusuk hanya akan menjadi saksi atas hancurnya sebuah keyakinan yang mati-matian kupertahankan. Lalu tak lama, sebuah kota akan patuh pada kesia-siaan. Kehidupan akan kembali jadi sekeping uang yang menolak dibelanjakan. Perjalanan terhenti.Kematian bermalam di tempat-tempat yang ditinggalkan. Percakapan tak lagi terdengar. Dan hujan terasa asing.
Matamu, adalah malam bagi sejumlah kenangan yang seharusnya kulupakan. Dan sebuah janji yang dulu ada, akan selalu ada, meski tak mungkin kini untuk kita memenuhinya.
Pamulang, 01 Februari 2016



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact