Welcome to My Blog!

Terima Kasih sudah berkunjung :)
Wednesday, July 30, 2014 0 comments

8 Cara Menjadi Pribadi Pemaaf


Tidak sedikit penelitian yang mengungkapkan pentingnya sikap untuk memaafkan dan legawa dalam hidup agar terbebas dari penyakit fisik. Karena pada dasarnya, masalah psikis yang tidak sehat jika terus ditahan bisa merembet ke masalah fisik atau menimbulkan penyakit.

Terkait hal memaafkan dan melepaskan dendam, pengarang buku pengembangan diri The Bounce Back Book, Karen Salmansohn, mengutarakan, ada delapan strategi atau cara untuk menjadi pribadi yang lebih pemaaf. Hal itu penting guna membebaskan diri dari belenggu amarah dan kepahitan, bahkan di situasi paling menantang dan sesulit apa pun.

Ucapkan Doa

Ketika perasaan amarah terhadap seseorang mulai merasuki pikiran, sebaiknya katakan pada diri sendiri, "Semua manusia pada dasarnya baik. Kemarahan pada manusia sebenarnya hanya karena jiwa penyayang yang kerapkali kehilangan arah". Lalu, doakan orang yang menyakiti Anda agar bisa merasakan kebahagiaan lagi.

Wednesday, July 23, 2014 0 comments

Pejalan Bodoh dalam Era Ponsel Pintar


DI Shibuya, salah satu persimpangan terpadat dunia, setiap 2 menit, ada lebih dari seribu penduduk Tokyo berpenampilan trendi bersiap melintas dari delapan titik persimpangan.

Kelihatannya mereka amat mungkin bertabrakan. Ternyata, tidak. Mereka bergerak otomatis saling menghindar. Seperti penari berputar-putar dengan kakikakinya. 

Jika dipikir-pikir, itu amat menakjubkan. Apalagi, fenomena dumbwalking kini sudah merasuki warga Tokyo. Dumbwalking adalah ketika seseorang berjalan bak zombi, dengan kepala tertunduk, tangan tertekuk, dengan mata nyalang ke layar smartphone.

Saturday, July 19, 2014 0 comments

Danau Kita dan Bulan Kenangan



"Menjadi biasa, itu luar biasa. Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa."

Entah mengapa, memandang danau dengan segala macam panoramanya membuatku rindu akan cerita kita. Riak-riak air yang bertabrakan dengan kayu yang mengapung, membentuk cincin-cincin air yang semakin lama semakin besar, lalu menghilang digantikan cincin berikutnya. Sempurna. Ikan julung-julung yang menyemburkan gelembung-gelembung kecil yang rapuh, serapuh seseorang dipinggir danau sana yang tak jemu memandang lurus kedepan, seolah sedang berharap akan menemukan sesuatu yang belum pernah ditemuinya.

Aku disini, diatas bale danau fairy yang memang sengaja disediakan untuk pengunjung danau yang indah ini, mejuntaikan kaki ke bawah dan menikmati jilatan-jilatan lembut air yang beriak-riak di ujung jari kakiku. 

Thursday, July 17, 2014 1 comments

“Bangsa Kasihan” Fakta Penjajahan Sebuah Negara Terjajah


Sebuah puisi dihadirkan dalam bentuk prosa dan berjudul “Bangsa Kasihan” telah menjadi salah satu koleksi karya sastra yang menyampaikan kritikan terhadap bangsa-bangsa merdeka. Bangsa yang diperkirakan tidak tahu atau memang tidak mau tahu mengenai nasib dirinya sendiri dalam sebuah bangsa yang merdeka.  karena dalam kenyataannya ia menutup ruang bagi alat panca inderanya dalam menjalankan tugas fisik dan emosi. “Bangsa Kasihan” ini sangat menarik untuk diapresiasi karena penuh dengan pesan-pesan kemanusiaan.

Sunday, July 13, 2014 0 comments

Mengenang Kota Hilang


Maka lumpur pun datang membasuh wajah kota itu.
(Hasan Aspahani, 2006)

Itulah bait pertama yang kau tulis dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari penanya, ketika perlahan-lahan kotaku terendam lumpur. Begitupun aku menyambut gembira, atas suratmu yang kau kirim melalui denyut hati, karena kau tahu arti penderitaan kami.

Aku mengerti perasaanmu. Begitu bernafsukah kau ingin datang ke kotaku? Begitulah yang aku rasakan dalam setiap detak nadimu. Tetapi aku tahu, kau hanya ingin mengembara lepas dalam batin kami yang menderita.

0 comments

Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus…


”Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.”

Serayu, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? O Serayu, sesedih apakah perasaan seorang wanita yang melihat senja itu dari balik jendela kereta ketika melintas di jembatan panjang sebelum stasiun Kebasen?

Sepanjang angin akan berembus, selalu ada cerita tentang wanita kesepian, senja yang menunggunya dalam waktu yang serba sebentar, lalu keheningan pun terjadi meski sesungguhnya gemuruh kereta ketika melintasi jembatan itu bisa terdengar hingga ke batas langit, atau ke dasar sungai.

Thursday, July 10, 2014 0 comments

Sampan Zulaiha


Ia mengekori bapaknya yang berjalan beriring dengan Nurdin. Tangan kiri bapaknya menenteng sejumlah bubu bambu perangkap ikan, juga beberapa bubu nilon penjerat kepiting. Tangan kanannya menggenggam sepasang dayung. Nurdin, meski usianya kurang sepuluh tahun, enteng saja menggendong segulung jala dan menjinjing bekal. Maklum, sejak usia tujuh tahun, adik laki-lakinya itu sudah melaut bersama bapaknya. Zulaiha iri. Ia juga kepingin melaut. Tapi keinginan itu ibarat ikan hendak berenang di genangan langit! Angannya sering berkelana; menunggang sampan, menghirup wangi laut, dan membiarkan pias laut menyerpih di wajahnya. Nikmat!

Sampan masih tertambat, tapi terkulai-kulai diayun putik ombak. Bapaknya menyulut rokok, dan Nurdin begitu sigap menguras air dari lengkung sampan. Diam-diam Zulaiha menggeliat ke sisi Nurdin. Sampan berguncang! Lalu terdengar dengus yang rakus, disusul suara gedebab, semacam pelepah kelapa menimpa sesuatu. Zulaiha terjerembab! Di punggungnya, bukan tanggung rasa panas yang menjalar. Kepala dayung yang dihantamkan bapaknya ke tubuh Zulaiha. ”Berapa kali Bapak katakan, kau tu tak boleh melaut. Anak jadah!”

 
;