Welcome to My Blog!

Terima Kasih sudah berkunjung :)
Friday, January 2, 2015

Saksikan Kawan!


Kawan, ingatkah kalian pada sesosok perempuan muslimah yang berperangai sanguitis? Mudah bergaul, penuh percaya diri, ambisius, mati-matian mempertahankan prinsip serta senantiasa tersenyum dalam banyak hal.

Ia berkata, “senyum itu adalah garis lengkung yang dapat meluruskan segalanya,”

Ia menjadi pendengar setia kala menyaksikan sahabatnya terluka. Betapa ia mengerti, yang dibutuhkan seseorang ketika terhimpit masalah bukan semata orang yang pandai menyangkal atau memiliki segudang kata-kata motivasi. Yang paling dibutuhkan seseorang ketika terhimpit masalah justru adalah pendengar.

“Tumpahkan semua tangismu kawan, keluh kesahmu, air matamu. Aku tidak akan banyak berkata-kata, karna kali ini yang kau butuhkan hanya didengar,”
“Menangislah, jangan sungkan. Aku disini, sebagai tempat bersandar,”
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jika kau pikir itu bisa mengurangi gundahmu,”


Dia disana tidak sekedar untuk menghapus air matamu dan memaksamu menggantinya dengan senyuman. Ia sigap dengan sekotak tissue, membiarkanmu menangis hingga air matamu lelah mengalir. Bahkan jika perlu, ia akan ikut menangis bersamamu, melakukan segala macam cara demi membuatmu merasa, “Kau memiliki seorang teman, kawan”. Atau, “Kau tidak sendirian disini.”

Setelah berhasil menenangkanmu, memaksa kesedihan itu larut bersama air mata yang tumpah, ia akan mulai bercerita. Bak seorang trainer yang memuntahkan kisah-kisah penuh inspiratif.

Sayang sekali kawan..
Sang sanguitis perlahan menjelma menjadi seorang melankolis. Perlahan tapi pasti, darah hitam yang tersebar di pembuluh-pembuluh nadinya bergumul dan bersikeras mengalir kedalam limfanya. Tak mau tahu. Jumlahnya berlipat-lipat dibanding darah kuning yang sebelumnya mendominasi tubuh perempuan tersebut.

Kawan, tak satupun menyadari ungkapan, “The hero is need the hero too,”

Saat ia dalam masalah, ia malu! Ia tidak ingin menangis dihadapan orang-orang yang selama ini menganggapnya baik-baik saja.

“Kamu enak ya. Gak pernah punya masalah. Seneng terus, disukai banyak orang. Siapapun dengan mudahnya nerima kamu jadi temen dan menjadi bagian dari mereka.”

Siapa yang tahu?
Ia memiliki ruang tersendiri dalam hatinya, tempat segala hal memilih haluan pada luka, ketimbang berjalan lurus menuju kebahagiaan. Persimpangan itu. Dimana ia harus terus menekan dan menyembunyikan virus-virus itu. Hingga pada akhirnya, pertahanan itu bobol.

Lihat kawan! Saksikan!
Kali ini ia sempurna menangis. Tersedu, terisak. Tak henti mengutuki diri. Menyesal betapa ia ternyata demikian lemah, demikian rapuh. Ia disana, ditepi danau cipondoh, hanya sendiri. Sendiri? Dimana kalian? Kalian yang dahulu percaya ia tempat bersandar yang nyaman. Tidakkah kalian sudi mempedulikannya? Memberikannya sehelai tissue? Menyediakan bahu kalian untuk sekedar menumpahkan air matanya? Ataukah kalian tidak sama sekali menduganya? Ia disana menangis!

Ohh.. kalian disana tengah tertawa-tawa bukan? Berfoto-foto mesra? Melupakannya? Tidak mengingatnya barang sedetik pun? Tidakkah kalian bertanya-tanya? Dimana dia? Sedang apa dia? Bagaimana kabarnya?
Tidak!

Bahkan gema adzan maghrib tidak sedikitpun mampu mengusiknya. Sedalam itukah luka yang dideritanya? Gerangan siapakah yang demikian sampai hati membuatnya serapuh ini? Ya, ia sendirian disana, menggigil. Memeluk kedua lututnya erat, berteriak dalam hati. Dadanya terlalu sesak menahan himpitan setriliun duka yang tak ampun memenuhi rongga pernapasannya. Hatinya terlalu pedih menahan sejuta cemeti yang tak henti lagi dan lagi menikam, menusuk, pilu.

“Kalian dimana?”
“Kalian dimana kawan?”

Batinnya seraya mendongak kepada langit yang sempurna menumpahkan hujan.

“Aku ingin berlari.. berlari.. berlari..”
“Hidup selalu menghadirkan pilihan kepada teman-temanku. Ketika jatuh, mereka bisa memilih untuk bangkit atau tetap terpuruk!”
“Tapi tidak demikian halnya denganku. Hidup sama sekali tidak menghadirkan pilihan padaku. Hidup dan segala hal yang bersemayam diatasnya, semuanya sepakat menjatuhkanku! Menyalahkanku! Atas peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak mereka ketahui!”
“Kalian tertawa bukan melihatku menangis?”
“Kalian terbahak melihatku terisak disini bukan?”
“Hanya itu? Hanya itukah yang kalian dapat setelah bertahun-tahun berkutat dalam organisasi?”
“Dimana letak hati kalian?”

Duhai, andai kalian mampu melihat jauh kedalam bola matanya. Niscaya akan kalian saksikan, lautan pekat, mata yang menyaru mata hiu, bak seseorang yang mati-matian mengurai dendam didadanya.

Saksikan kawan.

0 comments:

Post a Comment

 
;