Kawan, ingatkah kalian pada sesosok perempuan muslimah yang
berperangai sanguitis? Mudah bergaul, penuh percaya diri, ambisius, mati-matian
mempertahankan prinsip serta senantiasa tersenyum dalam banyak hal.
Ia berkata, “senyum
itu adalah garis lengkung yang dapat meluruskan segalanya,”
Ia menjadi pendengar setia kala menyaksikan sahabatnya
terluka. Betapa ia mengerti, yang dibutuhkan seseorang ketika terhimpit masalah
bukan semata orang yang pandai menyangkal atau memiliki segudang kata-kata
motivasi. Yang paling dibutuhkan seseorang ketika terhimpit masalah justru
adalah pendengar.
“Tumpahkan semua
tangismu kawan, keluh kesahmu, air matamu. Aku tidak akan banyak berkata-kata,
karna kali ini yang kau butuhkan hanya didengar,”
“Menangislah, jangan
sungkan. Aku disini, sebagai tempat bersandar,”
“Lakukan apa yang
ingin kau lakukan. Jika kau pikir itu bisa mengurangi gundahmu,”
Dia disana tidak sekedar untuk menghapus air matamu dan
memaksamu menggantinya dengan senyuman. Ia sigap dengan sekotak tissue, membiarkanmu
menangis hingga air matamu lelah mengalir. Bahkan jika perlu, ia akan ikut
menangis bersamamu, melakukan segala macam cara demi membuatmu merasa, “Kau memiliki seorang teman, kawan”.
Atau, “Kau tidak sendirian disini.”
Setelah berhasil menenangkanmu, memaksa kesedihan itu larut
bersama air mata yang tumpah, ia akan mulai bercerita. Bak seorang trainer yang
memuntahkan kisah-kisah penuh inspiratif.
Sayang sekali kawan..
Sang sanguitis perlahan menjelma menjadi seorang melankolis.
Perlahan tapi pasti, darah hitam yang tersebar di pembuluh-pembuluh nadinya
bergumul dan bersikeras mengalir kedalam limfanya. Tak mau tahu. Jumlahnya
berlipat-lipat dibanding darah kuning yang sebelumnya mendominasi tubuh
perempuan tersebut.
Kawan, tak satupun menyadari ungkapan, “The hero is need the hero too,”
Saat ia dalam masalah, ia malu! Ia tidak ingin menangis
dihadapan orang-orang yang selama ini menganggapnya baik-baik saja.
“Kamu enak ya. Gak
pernah punya masalah. Seneng terus, disukai banyak orang. Siapapun dengan mudahnya
nerima kamu jadi temen dan menjadi bagian dari mereka.”
Siapa yang tahu?
Ia memiliki ruang tersendiri dalam hatinya, tempat segala
hal memilih haluan pada luka, ketimbang berjalan lurus menuju kebahagiaan.
Persimpangan itu. Dimana ia harus terus menekan dan menyembunyikan virus-virus
itu. Hingga pada akhirnya, pertahanan itu bobol.
Lihat kawan! Saksikan!
Kali ini ia sempurna menangis. Tersedu, terisak. Tak henti
mengutuki diri. Menyesal betapa ia ternyata demikian lemah, demikian rapuh. Ia
disana, ditepi danau cipondoh, hanya sendiri. Sendiri? Dimana kalian? Kalian
yang dahulu percaya ia tempat bersandar yang nyaman. Tidakkah kalian sudi
mempedulikannya? Memberikannya sehelai tissue? Menyediakan bahu kalian untuk
sekedar menumpahkan air matanya? Ataukah kalian tidak sama sekali menduganya?
Ia disana menangis!
Ohh.. kalian disana tengah tertawa-tawa bukan? Berfoto-foto
mesra? Melupakannya? Tidak mengingatnya barang sedetik pun? Tidakkah kalian
bertanya-tanya? Dimana dia? Sedang apa dia? Bagaimana kabarnya?
Tidak!
Bahkan gema adzan maghrib tidak sedikitpun mampu
mengusiknya. Sedalam itukah luka yang dideritanya? Gerangan siapakah yang
demikian sampai hati membuatnya serapuh ini? Ya, ia sendirian disana,
menggigil. Memeluk kedua lututnya erat, berteriak dalam hati. Dadanya terlalu
sesak menahan himpitan setriliun duka yang tak ampun memenuhi rongga
pernapasannya. Hatinya terlalu pedih menahan sejuta cemeti yang tak henti lagi
dan lagi menikam, menusuk, pilu.
“Kalian dimana?”
“Kalian dimana kawan?”
Batinnya seraya mendongak kepada langit yang sempurna
menumpahkan hujan.
“Aku ingin berlari..
berlari.. berlari..”
“Hidup selalu
menghadirkan pilihan kepada teman-temanku. Ketika jatuh, mereka bisa memilih
untuk bangkit atau tetap terpuruk!”
“Tapi tidak demikian
halnya denganku. Hidup sama sekali tidak menghadirkan pilihan padaku. Hidup dan
segala hal yang bersemayam diatasnya, semuanya sepakat menjatuhkanku!
Menyalahkanku! Atas peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak mereka ketahui!”
“Kalian tertawa bukan
melihatku menangis?”
“Kalian terbahak
melihatku terisak disini bukan?”
“Hanya itu? Hanya
itukah yang kalian dapat setelah bertahun-tahun berkutat dalam organisasi?”
“Dimana letak hati
kalian?”
Duhai, andai kalian mampu melihat jauh kedalam bola matanya.
Niscaya akan kalian saksikan, lautan pekat, mata yang menyaru mata hiu, bak
seseorang yang mati-matian mengurai dendam didadanya.
Saksikan kawan.


0 comments:
Post a Comment