Cinta
adalah rasa
yang
kuucap dalam setiap desah
dan
cuaca
tak
sampai-sampai getarnya padamu
Setiap
hari embun meneteskan kesetiaannya pada pagi
seperti
aku yang tak pernah berhenti menari
dalam
mimpi tentangmu
dan
jatuh
Maka
kutanyakan pada mungkin,
ia
memandangku dengan mata kaca,
mengecup
luka dan berkata.
“Pergi
dan pakailah kerudung airmatamu,
sebab
tak ada tempat untuk cinta di sini."
Engkaukah
itu yang berkata?
Semua
pejalan di bumi, semua pencinta
pasti
akan menderita,
tapi
bagaimana agar tiap gerak berarti
hingga
malaikat pun sudi mengecup
semua
luka kita yang mawar
Engkaukah
itu yang berkata, cinta?
Sementara
diam-diam kita berikan
keping
luka dan risau kita
pada
angin yang tak desau
Di
dalam bis yang membawa banyak orang,
Kau
cari aku hari itu.
Tapi
kau tak tahu
aku
telah mencarimu sejak pertemuan pertama kita
Mengapa
kau sisakan peta buram yang sama
hingga
aku tak pernah bisa menatap punggungmu
Di
antara dinding dingin di sekitar kita
kau
cari aku hari itu
tapi
kau tak tahu
aku
telah mencarimu bermusim-musim
dan
selalu hanya pilu
yang
memeluk dan membujukku,
“Pulanglah,
kau sudah begitu lelah.”
Begitulah,
kata
telah lama berhenti
pada
napas dan airmata
Di
manakah kau, di manakah aku?
Labirin
ini begitu sunyi
dan
cinta terus sembunyi
Seperti
gelombang yang setia pada lautan
aku
telah lama kau campakkan
ke
pantai paling rindu itu
tapi
sebagai ombak aku memang harus kembali
meski
dengan luka yang paling badai
Begitulah
perempuanmu
memintal
lalu menguraikan kembali
kenangan
di sepanjang jalan kaca yang retak itu
Kau
mungkin lupa pernah
menitipkan
kilat asa di mataku
yang
menjelma beliung
namun
tak perlu bulan, lilin atau kunang-kunang
selalu
kutemukan jejak juga napasmu
di
jalan raya kehidupanku
Membayangkan
wajahmu aku pun bermimpi
tentang
matahari lain yang menyala suatu masa
Mungkin
kita bisa saling memandang lama
melepas
beliung abai yang menyiksa selama ini.
Aku
telah berjuang untuk melupakanmu
Seperti
baru kemarin kau datang dan kita bicara
sambil
menatap ubin, dinding dan pohon jambu itu
Kau
bilang tak mungkin, sebab
ada
yang lebih penting kau selesaikan
Seperti
angin yang tak sadar disapa waktu
aku
berpura tak mendengar
Dia
akan datang, kataku.
Tapi
katamu, kau akan datang setelah urusan selesai.
Bagaimana
kalau dia yang tiba lebih dahulu?
Siapakah
yang harus kuabaikan?
Siapa
yang perlu kulupakan?
Kita
terdiam mengamini ubin, dinding dan pohon jambu
suara
sapu ibu kos di ruang tamu, kendaraan lalu lalang
beberapa
mahasiswa melintas
mungkin
sebentar lagi gerimis
Dalam
sepi itu tiba-tiba kita pun teringat
perkataan
seorang sahabat
Katanya
kita punya sesuatu, semacam hubungan indah,
yang
tak bisa dirumuskan
Ketika
kau pulang senja itu
aku
tahu mungkin kita tak akan berjumpa lagi
untuk
waktu yang lebih dari lama
Menyakitkan,
tapi bukankah
tak
semua kebersamaan
harus
jadi monumen
kadang
lebih baik dibuang
biar
usang dalam tong sampah
Dan
akhir adalah permulaan
kau
aku tak pernah menapaki mula
juga
mungkin tak pernah sampai
pada
selesai
seperti
puisi yang kutanam
di
kuntum hatimu
Hai,
katamu
aku tetap perempuan itu
tak
henti menyelami lautan huruf
demi
yang Maha Cinta
Dan
kau sangat tahu
atas
nama cinta pula
telah
kuputuskan berhenti
menuliskan
kenangan tersisa.
Titik
tanpa koma,
pada
Februari ke lima
Dan, usai tangis ini. Aku akan berjanji.
Untuk diam, duduk ditempatku.
Menanti seseorang yang biasa saja.

0 comments:
Post a Comment